“Tim 2 Jari” Ajak Warga “Tepat Selfi”

“TEPAT SELFI”
Sabtu, (28/4/2018) 2 (Dua) oknum Wartawan melakukan “Tepat Selfi” di taman pembatas bahu jalan kota Kabanjahe, Karo, Sumut yang telah dipadati semak belukar. Padahal, hampir setiap hari akses ini dilewati pihak-pihak berkompeten di Karo dan Sumut. Wartawan MP/Selfi.

TANAH KARO-METROPUBLIKA |”Tim 2 (Dua) Jari” melalui Lamhot Situmorang, Sabtu, (27/4/2018), mengajak para warga NKRI pemilik Phone Seluler Android belajar “Tepat Selfi” guna membangun negeri. Tepat Selfi, dimaknai suatu konsep pengambilan foto berlatar belakang berbagai fasilitas umum bangunan pemerintah termasuk metode kerja pejabat berkompeten yang minim kualitas.

SEMAK BELUKAR PUSAT KOTA KABANJAHE
Pertanda kecil menunjukkan hal besar berkaitan peduli. Solusi : Sekalipun ini bukan ranah jalan daerah, setidaknya ada kebijakan pihak terkait di Karo untuk menyikapinya dengan memberdayakan para pelajar SMP dan SMA sehingga tidak harus mengeluarkan anggaran yang harus dipertanggungjawabkan. FOTO LEWAT LIHAT LEWAT/FIRMAN HM.

“Jika dilirik dari penerapan system, tingkat perhatian untuk arus hilir soal pembenahan berbagai fasilitas umum masih terdeteksi kurang efektif. Meskipun arus hulu (pemerintah pusat) diketahui telah menguras fikiran dan tenaga untuk mengaplikasikan berbagai program pemerataan kesejahteraan rakyat, namun, potret lapangan arus bawah (rakyat di daerah) masih menggambarkan kekecewaan.

LEWAT LIHAT LEWAT

Secara akal sehat, kita tentu berfikir alangkah tersayatnya hati orang-orang yang sudah menguras tenaga dan fikiran untuk merancang dan mengkonsep program tersebut yang pada akhirnya berujung keluhan dan tangisan bagi rakyat. Menyikapinya, saya terfikir bahwa perangkat Android melalui “Selfi” yang saya sebut istilah “TEPAT SELFI” dapat jadi perangkat perwujudan peran serta masyarakat.

Saya meyakini, melalui konsep sederhana ini maka secara langsung peran serta rakyat sebagaimana amanah Pasal 41 UU No.31 Tahun 1999, Vide (2) Pasal (3) Ketetapan MPR RI No.VIII Tahun 2001, dan UU No.14 Tahun 2008, terlaksana dengan baik dan berdampak ke peningkatan pembangunan yang tepat sasaran,” tegas Lamhot Situmorang Pd, Sabtu, (28/4/2018), pukul 15.00 Wib di Kabanjahe.

Dikatakan, sasaran Tepat Selfi bukan semata mengungkap indikasi korupsi di tubuh pihak berwenang, namun konsep tersebut dinyatakan turut mendorong aktifnya kepedulian para pejabat pemerintah, pemerhati, aparatur negara dan  rekan-rekan pegiat kontrol sosial demi terwujudnya kualitas pembangunan, sehingga akses percepatan peningkatan ekonomi rakyat dapat berlangsung sesuai program.

“Sesuai fakta-fakta lapangan, dinamika kehidupan rakyat khususnya saudara-saudari kita petani karo yang bermukim di sudut pedesaan, telah mengakui bahwa karya kata mampu mengkelabui  Fakta . Penerapan tatanan tempo dulu dengan gaya sockterapy (menakut-nakuti) terpantau masih eksis bahkan tumbuh berakar tunggal di tengah-tengah kehidupan rakyat khususnya di Tanah Karo.

Sementara Presiden RI menggelorakan himbauan agar rakyat berani mengungkap kebenaran sesuai dengan keluhan dalam kehidupan. Nah itu salah satu rambu-rambu khusus, bahwa menjalankan konsep kebenaran demi keperluan rakyat secara merata harus menyeberangi rintangan serius yang bervariasi. Ini sungguh luar biasa, bahkan ini sesuatu yang sangat-sangat luar biasa,” tegasnya.

Masih kata Lamhot, dirinya mengungkap sesuai apa yang diterimanya, bahwa saat ini Pemerintah Indonesia tidak lagi butuh otak pintar, cerdas atau lazimnya disebut kaum intelektual. Alasannya, NKRI dipastikan 100% tidak akan maju jika hanya mengandalkan kepintaran. Logikanya, karena ‘otak’ sudah bisa dibeli hanya dengan uang sebesar 500 ribu sampai 1 juta dan nutrisinya seharga 100 ribu.

Lagi menurutnya, sayangnya, perangkat canggih terkini tidak bisa menentukan apa sesungguhnya yang dibutuhkan negeri tercinta ini. Lalu siapa yang bisa menjawabnya? Satu hal lagi, Indonesia sudah diambang zaman ke-VI, siapa yang bisa menjawabnya? Indonesia sudah diberikan tanda-tanda khusus, lalu siapa yang telah melihat dan membaca tanda-tanda khusus itu?

“Saat ini, Indonesia juga menjadi PR (Pekerjaan Rumah-Tugas –Red) bagi para Ilmuwan negara-negara maju di bumi, apakah saudara/i para pembaca paham tentang apa itu? Apakah pembaca tahu alasan apa Kunker Perdana Presiden Jokowi ke Karo? Apakah kita sadari bahwa RI Satu sebelumnya selama 2 Tahun tidak bisa memutuskan Kaki Sibuaten Kawasan Siosar sebagai Relokasi Pengungsi Sinabung, namun hanya hitungan dalam waktu 3 hari, pak Jokowi langsung memutuskan area Relokasi itu?

Apakah anda tahu mengapa saya eror di Facebook selama 2 tahun lalu? Jika saya katakan, BAHWA SESUNGGUHNYA BAPAK PRESIDEN JOKOWI TELAH SUKSES MENANGANI PENGUNGSI SINABUNG ? Sebenarnya, masih ada 100 pertanyaan lagi, namun untuk saat ini, barangkali belum tepat waktu saya harus membeberkannya ke publik. Perlu saya jelaskan, bagi yang percaya dan tidak percaya saya haturkan terimakasih.

Hanya, pada kesempatan ini, saya menekankan khusus bagi kawula muda/i  NKRI ini, agar menjalankan konsep “Tepat Selfi”, karena ini bukan semata karya saya sendiri dan bukan kepintaran sendiri, melainkan sebatas pelaksana amanah saja. Saya tidak untung dan rugi jika saya harus berbohong. Puji Tuhan, Semoga Kita Diberkati dalam aktifitas masing-masing. Johanes 8 : 32, ” tutup Lamhot Situmorang. (Firman H Manihuruk/Julman Syahril Selian/Randy Sinuraya).

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *