Pengemudi Diharap Fahami “Ngebut” Dan “Cepat”

TANAH KARO-METROPUBLIKA |Guna menghindari peristiwa kecelakaan dalam berlalulintas yang cenderung berujung kerugian secara materi dan maut, para pengemudi jenis kenderaan mobil dan sepeda motor,diharapkan memahami istilah “Ngebut” dan “Cepat” saat menempuh tujuan.

Saat melintasi akses jalan, implementasi kalimat ngebut suatu kenderaan yang dikendalikan diriver (supir) dengan laju kencang (rpm-tinggi) tanpa perhitungan positif. Sehingga seluruh elemen yang mengetahui perlakuan ini mengillustrasikannya berjudi dengan mempertaruhkan harta dan nyawa.

Setelah ditelisik, pihak yang cenderung melakukan konsep judi, adalah pihak pengemudi kenderaan  yang berupaya memenuhi tuntutan situasi demi tercapainya target waktu. Jadi, sadar atau tidak, bahwa orang yang sedang menerapkan metode ngebut merupakan pihak yang telah dikendalikan situasi.

Sementara, kalimat cepat, dalam aktifitas berlalu lintas merupakan suatu sikap yang dinilai tepat untuk menggapai target tujuan. Karena dalam pelaksanaan metode ini, para pengemudi diwajibkan agar senantiasa berpatron pada ketentuan  rambu-rambu serta isyarat lampu sesuai aturan berlaku.

Demikian penjelasan Ketua Umum LSM Kemilau Cahaya Bangsa Indonesia (LSM KCBI), Joel B Simbolon, S.Kom, didampingi Sekretaris Jenderal LSM KCBI, Rinto Hardi Maha Raja, SE, Ak,Waketum Saut Sihaloho, Ketua PC LSM KCBI Karo Rudi Surbakti, Sekorwil Sumut dan NAD, Lamhot Sit,P.

Manager Pengairan KCBI Karo, Brema Lasarus Sitepu, Manager Informasi Heri Tagel Semb Sitompul, Ketua PC LSM KCBI Agara, Julman Syahril S, Agt Korwilsumnad Landro Siregar, disaat berkabung di pusara Alm. Sudin Purba,(korban Laka Ngebut),Sabtu,(20/1 /2018) di Desa Kacaribu,Kec Kabanjahe, Karo, Sumut.

Dikatakan, tindakan Cepat merupakan sikap yang tepat dalam menyiasati tuntutan kondisi waktu sesuai keperluan. Menurutnya, pilihan ngebut dalam upaya pencapaian target, mengindikasikan suatu kelemahan dan kekeliruan berdampak fatal yang dinyatakan suatu kesucsesan tipu muslihat Lucifer.

Lagi menurut Joel, dalam menyikapi tragedi berantai Mitsubishi Pajero BK 100 MF kontra sepeda motor pada pekan lalu, tepatnya, Sabtu, (6/1/2018) sekira pukul 10.30 Wib di Desa Kacaribu, Kec Kabanjahe, Kab Karo, Prov Sumut, hingga merenggut 2 (dua) nyawa warga, diharap jadi catatan khusus bagi jajarannya.

Karena setiap peristiwa yang sama di penjuru , tegas Joel, semuanya selalu berkesimpulan pada santunan pihak  jasaraharja serta action damai diatas kertas bermaterai Rp.6000, bermuatan poin-poin kepentingan pribadi semata, sehingga kesan implementasi penerapan hukum terdeteksi batal demi hukum sebagaimana amanah aturan.

Dihadapan anak dari korban seruduk rumah, Eko Purba  warga Desa Kacaribu, yang merupakan manager Seni dan Budaya LSM KCBI Karo, Ketum menegaskan agar pihak manager yang membidangi hal tersebut melakukan tugas khusus dalam hal analisis kronologis guna mensinkronkan UU No. 22 Th 2009.

“Selain memperhatikan konsekwensi hukum, peristiwa tersebut dapat dijadikan sebagai bahan dasar untuk kajian penentuan solusi  dalam upaya meminimalisir terjadinya tergedi laka, yang notabene diakibatkan minimnya pemahaman dan kesadaran oleh setiap pengemudi kenderaan di karo dan daerah yang lain.

Jadi, saya sangat berharap agar seluruh rekan juang LSM KCBI se-Indonesia , khususnya di Smut, terutama di Kab Karo, berkenan memperhatikan moment-moment spesial serta membuat kajian secara bersama yang muaranya jadi program kerja KCBI demi demi mewujudkan harapan ,”  tutup Joel. (Red-01-L@mhot Situmorang Pande).

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *