JPKP Sedih, Kepsek Pungli Anak Yatim Pengungsi

Waka DPD JPKP Kabupaten Karo, Lamhot Situmorang Pande (Baju Hitam-JPKP), bersama “Tim 2 Jari” ketika wawancarai oknum pelajar anak yatim pengungsi sinabung Dita Kenika S Milala, bersama kelurga di rumah kontrakannya Jln Jamin Gintings Gg Karona, Komp. Merga Silima, Kabanjahe, Karo, Sumut.  Foto “Tim 2 Jari” Dra. Rosmitha Gintings.

TANAH KARO – METROPUBLIKA |Jika baru-baru ini Ketua DPW JPKP Sumut, Trianto Sitepu, SH, dibelenggu emosi ketika mendengar informasi dugaan aksi pembodohan dan pungli terhadap pengungsi sinabung, tapi kini, pimpinan “Ex Jokowi Presidenku” tersebut  justru sedih saat mengetahui perlakuan Kepsek SMA N Satu yang tidak manusiawi terhadap anak pengungsi.

MENANGIS MEMBERIKAN KETERANGAN
Sitmi Sagita Br Sitepu (Kaus Biru Lenagn Panjang), Menangis Sambil Memberikan Keterangan Seutuhnya Kepada “Tim 2 Jari”. Foto | Tim 2 Jari / Dra. Rosmitha Gintings.

Faktanya, saat dirinya (Trie Sitepu) memimpin rapat khusus pengurus dan jajaran DPD Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan (DPD JPKP) Kabupaten Karo, pekan lalu, tepatnya, Minggu, (27/5/2018),di Kabanjahe, Kab Karo, Sumut, julukan Trie itu mendapat info dari warga bahwa anak yatim pengungsi turut dipungli oknum Kepsek SMA N I Simpang Empat, Muliana Surbakti.

“Sebelumnya saya sudah emosi double kuadrat mendengar kondisi warga di kampung saya ini soal keluhan para petani terkait bibit jagung bantuan Kementan RI, dugaan pungli terhadap 67 KK di Relokasi Mandiri Surbakti I (Satu) sebesar Rp.402.000.000, termasuk sikap tega oknum berkompeten dalam penyediaan fasilitas warga korban erupsi sinabung yang diketahui beraroma stress.

Sudah banyak orang turut defresi hanya sebatas mengetahui dari media sosial soal penerapan metode untuk beberapa item ini. Coba bayangkan, jika penonton yang tidak ada kaitannya turut berpotensi stress, bagaimana lagi dengan saya yang merupakan bagian dari Tanah Karo. Permainan benih jagung di wilayah kampung bapak saya di Limang sana, area Kecamatan Tigabinanga.

Korban erupsi kampung ibu yang melahirkan saya, Desa Berastepu Kecamatan Simpang Empat, Karo. Situasi ini benar-benar cobaan berat bagi saya. Paling mencabik dan menyayat hati, anak dari saudara-saudari kita korban erupsi gunung sinabung yang berstatus pelajar diduga turut dipungli pihak sekolah,” ujar Tri didampingi Wakilnya dan  Sekretaris DPW JPKP Sumut, Riza.

Sesuatu yang menurutnya membuat dirinya spontan terpaku dan geleng kepala serta memicu kabut di bola mata, ketika Trianto SH mendapat informasi terkini bahwa pelajar anak yatim pengungsi`gunung sinabung`pun diduga turut dipungli Kepala SMA Negeri I Simp Empat, Muliana Br Surbakti, selama 1 (satu) tahun lebih bermodus membeli fasilitas sekolah jenis kursi bangku pelajar.

Justru itu, Sitepu sangat menekankan kepada seluruh rekan-rekan juangnya di Kabupaten Karo agar segera menelusuri informasi yang telah mengankangi aturan berlaku di NKRI itu. Namun, Trie Sitepu mengharapkan jajarannya agar dalam penelusuran tersebut memprioritaskan pengakuratan info  dugaan aksi pungli terhadap “Pelajar Anak Yatim” pengungsi serta permainan bantuan pertanian.

“Saya sangat berharap agar seluruh pengurus DPD JPKP Karo dan jajarannya berkenan memberikan waktu dan fikiran secara sosial, guna pelurusan hak-hak rakyat ini. Justru itu, Ketua DPD JPKP Karo pak Josua Ketaren, Sekda DPD Karo ibu Rosmitha Gintings dan terkhusus kepada bung Waka Lamhot Situmorang Pande, agar segera menyusun konsep aksi  strategi ke depan.

Sekali lagi buat Waka DPD JPKP bung Lamhot, tolong dilancarkan konsep-konsep yang telah diterima dari pusat dalam Tim yang telah dibentuk, yakni “Tim 2 Jari”. Sudah saatnya dibuktikan bahwa gerakan “Tim 2 Jari’ itu, adalah “Gerakan kasih” yang dianugerahkan kepada Pembina kita yang terhormat Bapak Presiden RI Ke-VII, Ir. Joko Widodo, yang wajib diaplikasikan,” pinta Trie.

Pasca paparan Trie Sitepu, atas amanah Josua Ketaren, tepatnya,  Sabtu, (9/6/2018), Sekda JPKP dan Waka JPKP Karo bersama sejumlah “Tim 2 Jari”, berhasil mengakuratkan informasi adanya dugaan  pungli terhadap pelajar “Anak Yatim Pengungsi”. Pelajar anak yatim (hiudp tanpa ayah), ditemukan di Jln Letjend Jamin Ginting, Komplek Merga Silama, Gg Karona Kabanjahe.

Adalah, Dita Kenika Br Sembiring Milala, (17), Kelas XI IPA 1, Siswi SMA Negeri  I (Satu) Simp Empat, Kabupaten Karo, Sumut, tercatat sebagai korban erupsi gunung api sinabung asal Desa Kuta Tonggal, Kec Naman Teran, Kab Karo. Dita, merupakan puteri sulung buah kasih oleh pasangan suami istri (Pasutri) “Cerai Mati” dari Alm. Edy Gia S Milala (+) dan Sitmi Sagita Br Sitepu (37).

Awalnya, Dita, mengaku takut mengutarakan metode yang dilancarkan pihak sekolah dalam merampas hak para siswa/i pelajar di SMA N I Simp Empat, Karo, yang mayoritas didominasi keluarga korban erupsi dan warga terdampak erupsi G. sinabung. Karena menurutnya, jika hal itu dibeberkan, dirinya  berpridiksi bakal mendapat tekanan dari pihak Kepsek di sekolahnya.

Walau salah seorang Tim yang melakukan “Cover” dalam pengumpulan data, mengaku menjamin dan mem-back Up jika sesuatu hal negatif  timbul di kemudian hari, namun, Dita yang saat itu didampingi adiknya dan kakeknya, tetap memilih bungkam (diam) sambil menatap ke lantai sembari menghembuskan nafas yang terpantau tidak netral. Alhasil, akhirnya Sitmi ibunya sikap buruk Kepsek selama ini.

Sambil meneteskan air mata, janda paruh baya anak 2 (Dua) yang bermukim di kontrakan area perladangan warga Desa Berhala, Kec Kabanjahe itu, membeberkan bahwa metode pungli yang diterapkan Kepsek SMA N I Simp Empat selama ini, selalu diwarnai konsep pelumpuhan moral anak pelajar. Untuk kelancaran penagihan, kata Sitmi, aksi pihak sekolah dengan mempermalukan anak cukup efektif.

Metode dengan memanggil nama-nama anak yang belum bayar tagihan dugaan pungli secara berulang-ulang di depan teman teman pelajar lainnya sangat mempengaruhi agar orangtua berajibaku dengan cara apapun untuk mendapatkan dugaan tuntutan pungli pihak sekolah. Hal yang luar biasa, ucap Sitmi menangis, tiada kegiatan tanpa kutipan dan tiada bantuan tanpa potongan.

“Seperti kutipan uang beli bangku belajar sebesar Rp. 600.000, terhadap orang tua siswa/i kelas XI (kelas 2 red), pihak  guru melancarkan trik melumpuhkan moral anak, sehingga kami orangtua berupaya sekeras mungkin untuk memenuhi uang yang ditagih melalui anak kami. Terkadang, kami sudah apatis dengan kata-kata pemerintah pusat, baik itu pejabat BNPB maupun menteri lainnya.

Walau sudah sering dibeberkan di beberapa media, tapi kesannya tidak ada yang peduli khususnya situasi kami warga di pos pengungsian selama ini. Coba bayangkan, dalam situasi mengungsi di posko-posko kami tetap ‘dicekik’ kepsek demi memenuhi yang katanya kebutuhan sekolah. Jujur bang, terkadang karena susahnya memenuhi tuntutan pihak sekolah, saya ingin mencari alternatif negatif.

Saya adalah orang yang secara nyata menghadapi kekejaman manusia yang berpendidikan bang, tidak tepat situasi ini jika saya bersikap jujur dan terbuka apa yang sesungguhnya saya niatkan karena beratnya beban ini. Bahasa peraturan tidak seperti kenyataan, demo ke DPR sudah, masukkan ke koran-koran sudah, tapi hasilnya justru pihak sekolah makin bringas,” ujar Sitmi sambil menangis.

Melihat tetesan air mata Sitmi, akhirnya Dita Kenika S Milala, nekat mengungkap semua sikap para guru dan komite di sekolah. Dikatakan,  selama dirinya sekolah di SMA N I Simp Empat hampir  semua teman-teman sekolahnya pernah jadi korban moral. Hanya saja, kata Dita, secara kompak siswa/i SMA N I Simp Empat mampu menutupi penerapan system yang menjadi beban berat bagi ibuku.

Bahkan baru-baru ini, berkaitan soal pembayaran uang bangku sebesar Rp. 600.000, kata Dita KS, seorang sahabatnya berinisial “Bunga S” menangis karena uang yang diharapkan dari orangtuanya tak kunjung ada. Peristiwa itu terjadi saat pagi hari sebelum memulai proses belajar. Sahabat saya menangis  karena memikirkan bakal dipermalukan oleh guru di kelas soal cicilan bangku belajar.

“Makanya, semua yang dijelaskan ibu saya benar adanya, terkadang sayapun menangis menjelaskan kepada ibu terkait perlakuan pihak sekolah cara menagih hutang-hutang di sekolah. Justru itu saya sangat perasaan ketika melihat teman yang akhirnya dia terbuka faktor dirinya hingga menangis tersedu sedu. Semoga saja pihak yang berwenang berkenan memperjelas segala uang yang selama ini kami berikan.

Karena harus tertekan batin, saya sudah pernah memilih berhenti sekolah akibat kondisi ekonomi mamakku yang tidak mampu memenuhi tuntutan pihak pihak sekolah. Tapi mamak bersikukuh bahwa dirinya menyatakan mampu menjadi seorang ibu dan ayah dengan catatan saya tetap tekun belajar dan tetap tegar mengahdapi tantangan tekanan moral di sekolah,” ujar Dita, Sabtu, (9/6/ 2018) sambil meneteskan air mata.

Kepala SMA Negeri I Simpang Empat, Karo,Muliana Surbakti, M.Pd, telah berulang-ulang dihubungi sejumlah wartawan termasuk kru www.metropublika.com, tidak berhasil. Namun, beberapa sumber mengatakan bahwa belakangan ini, dia (Muliana) selaku Kepala Sekolah SMA Negeri I (Satu) Simp.4 sudah jarang masuk, berhubung domisilinya jauh dari Simp. Empat Beganding, area sekolahnya. (Red 01-LSP-Hen/Kawar S/Ketek S 366).

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *