Bupati Agara Diminta “Sikapi” Akses Menuju Bandara

METROPUBLIKA-ACEH TENGGARA |Aktifis LSM Kemilau Cahaya Bangsa Indonesia  (LSM KCBI), Julman Syharil Selian, Kamis, (18/1/2018), meminta agar Bupati Aceh Tenggara, Radin Pinem segera menyikapi  kondisi buruk akses jalan menuju Bandara Udara ASER (Alas Leuser) sepanjang kurang lebih 5 KM.

Harapan ini digelontorkan guna mengantisipasi terjadinya peristiwa maut yang berpotensi menelan jiwa para warga yang menggunakan kenderaan, khususnya roda dua. Karena menurut Julman, kondisi akses jalan ruas sp semadam hingga Bandara Udara Internasional Aser, sepanjang 5 Km dinilai rawan maut.

Alasannya, katanya lagi, posisi dan bentuk kerusakan bahu jalan diketahui sangat menjebak, karena lobang yang telah menganga dengan kedalaman 10-20 CM itu berada diantara akses yang masih mulus. Akibat medan jalan ini, warga sekitar sering terjebak lobang apalagi saat-saat musim penghujan.

Pemuda Aceh kelahiran Semadam, Agara, itu menjelaskan bahwa data-data otendik tersebut diketahui ketika dirinya pulang kampung menuntaskan permasalahan laka lantas ringan (tabrak-red) yang terjadi diantara pihak  keluarganya tepatnya Desember 2018 lalu. Dikatakan, penuntasan problem pada saat itu diawali aksi tegang.

Faktanya, ketika kedua belah pihak dikonfrontir, pengguna mobil mengaku dirinya melaju pada jalur seutuhnya, sementara pihak yang satu lagi berkomentar mestinya pihak supir mobil mengurangi tingkat laju (kecepatan RPM), ketika dirinya berada di jalur kanan posisi itu terjadi demi menghindari ranjau maut yang menganga.

“Namun, fenomena itu justru menjadi motivasi bagi saya dan keluarga dalam mewujudkan amanah UU No.14 Tahun 2008, tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) dan pasal 41 UU No. 31 Tahun 1999 tentang peran serta masyarakat dalam percepatan pemberantasan tindak pidana korupsi oleh setiap pejabat pengguna anggaran,” ujar Julman.

Setelah menganalisis permasalahan, kesimpulan telah mengindikasikan bahwa sumber utama kerugian moral dan materi warga terarah ke pihak pemerintah daerah. Namun mengingat pimpinan daerah masih tergolong baru menjabat hitungan bulan, hal itu jadi pertimbangan matang hingga mengurung niat penelusuran tim kami.

Karena seingatnya, kondisi buruk akses jalan tersebut sudah terlihat sejak 2 (dua) tahun silam. Jadi, menurut Julman, metode kerja Bupati dan Wakil Bupati Agara yang baru masih layak ditolelir walau dampaknya sangat fatal bagi seluruh masyarakat pengguna jalan.

Namun, jika dirunut dari amanah Pasal 273 Ayat (4) Bab XX UU No. 22 Tahun 2009, tentang ketentuan pidana angkutan lalu lintas dan jalan raya, bahwa pihak penyelenggara jalan dalam hal ini Bupati Agara atau perangkat dinas terkait yang tidak membuat tanda-tanda di area akses jalan yang rusak dapat dipidana dan didenda materi.

Justru itu, ketus Julman lagi, sebelum adanya perbaikan secara permanen, diharapkan agar Bupati Agara Raidin Pinem, segera menyikapi lobang besar di bahu jalan yang tengah membentuk ranjau. Pria berdarah Alas julukan “Julman GAM” di wilayah rantaunya (Karo dan Medan) itu berkilah bahwa Raidin dianggap wajar cepat tanggap.

“Tanpa saya ungkap vulgar, saya kira bapak Bupati Aceh Tenggara Raidin Pinem selaku mantan Kadishub, sudah sewajarnya peka soal akses jalan ke tempat-tempat tertentu. Jadi, saran saya, sebelum muncul sesuatu hal diluar harapan terutama ocehan masyarakat, kita turut berdoa agar beliau segera memerintahkan Kadis PU.

Kita bukan mengaku sebagai warga yang bersosial tinggi atau cari perhatian, tapi berbekal dengan refrensi dari sejumlah rekan-rekan juang yang ada di luar Agara terutama arahan positif dari pimpinan LSM KCBI Pusat, Bapak Joel B Simbolon S.Kom, bahwa kita ingin membangun Aceh menganut konsep simbiosis mutualisme.

Saya juga sadari, bahwa saya ibarat benda ringan yang terdampar di tengah laut hingga berlabuh di tempat yang tepat. Fakta situasi yang saya terima terkesan seakan tindaklanjut positif sejarah spesial yang pernah terjadi di Aceh. Logikanya, sosok Ketum LSM KCBI domisili Jakarta itu merupakan cucu dari oknum yang terhormat Alm Kolonel Maludin Simbolon, sahabat karib ayahanda Alm Hasantiro,” ketus Julman.

Lagi kata Julman Syahri, Dirunut dari historis, bahwa yang terhormat Alm. Kolonel M Simbolon merupakan sosok militer yang anti korupsi, dulunya telah berkenan mengungkap faktor keterpurukan Aceh pada beberapa tahun silam hingga terjadi aksi “Brontak” secara terstruktur oleh saudara-saudari kita tercinta tim Gerakan Aceh.

Suatu kebanggaan tersendiri, keberadaan bapak “Simbolon Era Kini” untuk Aceh justru membuka akses konsep membangun wilayah NAD dengan metode terbarukan yakni menciptakan jendela informasi 2 (dua) arah, antara pihak pemerintah dengan elemen masyarakat di segala sektor melalui tatanan transfaran dan akuntabel yang riil.

“Sesuai amanah pimpinan saya, Argalus (Aceh Tenggara dan Gayo Lues) diharap dapat menjadi contoh wilayah pembangunan yang cepat, tepat dan bermanfaat. Untuk Aceh, KCBI juga memiliki metode khusus dalam upaya  menyetrilkan kebiasaan buruk pihak-pihak berkompeten yang selama ini bermuara negatif bagi rakyat biasa.

Karena menurut hemat pimpinan KCBI Pusat, metode mendiskriditkan, kekerasan, bahkan menggiring ke ranah hukum bagi pihak pejabat bersalah dinilai bukan solusi membangun Aceh. Karena di Aceh tidak heran lagi ketika terjadi tragedi sadis, dipermalukan, dipenjarakan bahkan kematian yang muncul secara spontan.

Aceh hanya merindukan “Senyuman Dalam Kebersamaan Serta Menikmati Pembangunan Yang Tepat Sasaran”. Justru itu, kami telah mempersiap multi konsep demi mewujudkan impian sesuai arahan pimpinan kami. Karena menurutnya, karakter seutuhnya etnis Aceh tidak terlalu mendambakan yang terlalu berlebihan dalam segala hal.

Amanah inilah yang harus saya jalankan walau dengan kondisi apa adanya, karena situasi ini mengalir tanpa ada perencanaan khusus, melainkan muncul diluar dari dugaan. Insya Alloh, apa yang terlintas dalam wadah kami (LSM KCBI) terkabul sebagaimana mestinya,” tutup Julman Syahril Selian.

Sementara itu, Bupati Aceh Tenggara Raidin Pinem, saat dihubungi metropublika.com terkait kebijakan yang sudah dirancang untuk solusi kondisi akses jalan menuju bandara di Desa Ngekeran Dua, Kecamatan Semadam, Agara, NAD, Kamis, (18/1/2018) via phone selulernya dengan system call dan SMS tidak berhasil.

Sekilas informasi, Bandara Udara Alas Leuser seluas 30 Ha yang sempat diisukan bahwa sebagian area lahan tersebut sempat dijadikan warga sebagai cocok tanam jagung. Namun, saat ini bandara Alas Leuser (Aser) diinformasikan sedang direhabilitasi Kementerian Perhubungan RI guna peningkatan level. (Red-01-L@mhot Situmorang / Fitriana Sagala S.Pd)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *